Pemprov NTB Beli Alat PCR Rp 700 Juta untuk Deteksi Penyakit Ternak
Mataram – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) membeli alat Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk mendeteksi penyakit pada hewan ternak yang akan dikirim keluar daerah. Alat PCR ini sangat diperlukan untuk mendeteksi penyakit ternak yang akan dijual ke luar NTB.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) NTB, Ahmad Riadi, mengatakan alat PCR ini dibeli pada akhir tahun 2025 dengan harga Rp 700 juta. Menurutnya, Alat pendeteksi penyakit pada ternak ini sudah mampu menyumbang pendapatan asli daerah (PAD).
“Dalam waktu dua bulan saja Maret-April atau selama masa pengiriman hewan kurban itu sudah melayani 1.630 layanan dengan nilai sewa yang masuk ke PAD capai Rp 815 juta,” kata Riadi, Jumat (22/5/2026).
Riadi mengatakan layanan PCR bagi peternak di NTB selama dua bulan mampu mendatangkan PAD senilai ratusan juta. Alat ini ditargetkan masuk ke dalam investasi di sektor peternakan.
“Selama ini kan kita kalau mau PCR itu kita harus ke Bali dan Surabaya. Jadi sangat mahal biayanya. Sekarang kita sudah punya dan sudah sangat menguntungkan kalau dari sisi bisnis,” jelasnya.
Disnakeswan mencatat pada momentum Iduladha tahun 2026 ini sebanyak 24.974 ekor yang dikirim ke wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang dan Bekasi (Jabodetabek). Menjadi yang terbesar dalam kurun waktu empat tahun terakhir ini.
Riadi mengatakan NTB masuk dua besar provinsi dengan potensi sapi terbesar di Indonesia. Jumlah sapi dari para peternak di NTB tembus 1,3 juta ekor. “Potensi ini harus kita pertahankan. Jadi potensi PAD dari PCR ini sangat bisa menguntungkan bagi pemda,” ujar Riadi.
Sebelumnya, Pemprov NTB berhasil mengirim 27.449 sapi ke luar Bumi Gora untuk kurban Iduladha 1447 hijriah. Pengiriman sapi tersebut terbanyak ke Provinsi DKI Jakarta.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Muhamad Riadi mengatakan kuota pengiriman sapi NTB pada 2026 mencapai 52.517 ekor. Hingga April 2026, NTB berhasil mengirim 32.226 sapi ke luar daerah.
“Periode April itu tersisa 20.291 ekor belum dikirim ke luar. Terbesar sisanya di pulau Sumbawa capai 13.061 ekor,” ujar Riadi di kantor Gubernur, Rabu (20/5/2026).
Source :
https: www.detik.com
