Ancaman Sawit dan Tambang, Pemerintah Janjikan Dukungan bagi Petani Karet
www.suaraagrosriwijaya.com – Kementerian Transmigrasi menjanjikan dukungan bagi petani karet di kawasan transmigrasi di tengah isu alih fungsi lahan ke perkebunan sawit dan pertambangan.
Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mengatakan, Kementerian Transmigrasi akan tetap menjalankan fungsi pembinaan bagi masyarakat transmigrasi di kawasan transmigrasi sesuai ketentuan yang berlaku.
“Kementerian Transmigrasi akan bertanggung jawab untuk membantu membina warga trans, baik itu di satuan-satuan pemukiman, maupun yang ada di desa atau wilayah setempat yang ada di kawasan transmigrasi, sesuai dengan Undang-undang Nomor 29 Tahun 2009 tentang Transmigrasi,” kata Viva saat melakukan kunjungan ke Desa Sebuntal, Kecamatan Marangkayu, Kalimantan Timur, Sabtu (23/05/2026).
Ia mengatakan pembinaan tersebut berlaku selama persoalan lahan tidak berkaitan dengan konflik dan telah memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM). “Kalau kemudian itu tidak berkaitan dengan konflik lahan dan misalnya itu sudah menjadi SHM dan itu menjadi tanggung jawab pribadi,” ujarnya.
Dorong Tumpangsari
Selain pembinaan, Kementerian Transmigrasi juga membuka peluang pemberian nilai tambah ekonomi kepada petani karet melalui pola tumpangsari.
Viva menyebut skema tersebut dapat menjadi sumber tambahan pendapatan keluarga petani dengan menanam komoditas lain yang sesuai dengan kondisi lahan. “Para petani karet yang ada di kawasan transmigrasi nanti akan kita komunikasikan, dalam rangka untuk memberikan nilai tambah misalnya, bisa saja dengan membuat program tumpangsari yang itu bisa menambah pendapatan keluarga per bulan,” kata Viva. Menurut dia, komoditas yang dapat dikembangkan melalui pola tersebut di antaranya jagung dan kapulaga.
“Dengan jagung, dengan kapulaga, dan lain sebagainya yang sesuai dengan kondisi tanah sehingga itu akan memberikan trickle-down effect buat peningkatan kesejahteraan petani karet,” ujar Viva.
Banyak Petani Karet Merupakan Transmigran
Sementara Viva Yoga Mauladi mengatakan, petani karet di Indonesia banyak berasal dari kawasan transmigrasi, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Ia menyebut jumlah petani karet di Indonesia mencapai sekitar 2,1 juta kepala keluarga. “Petani karet ini jumlahnya sekitar 2,1 juta kepala keluarga di seluruh Indonesia, yang sebagian besar tersebar di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Dan sebagian besar berada di kawasan transmigrasi,” kata Viva.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi perhatian Kementerian Transmigrasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat transmigrasi maupun eks transmigrasi.
“Jadi ini menjadi hal penting dan menjadi tanggung jawab kami agar bagi warga transmigrasi yang ada di kawasan transmigrasi atau di eks kawasan transmigrasi itu bisa meningkat pendapatannya, bisa sejahtera,” ujarnya.
